Mengenai hak-hak anak

Allah Ta’ala telah menjelaskan bahwa anak-anak memilik hak yang menjadi kewajiban sang bapak.

Dari Ibnu Umar dia berkata,

” إنما سماهم الله أبراراً لأنهم بروا الآباء والأبناء كما أن لوالدك عليك حقا كذلك لولدك عليك حقا ” . ” الأدب المفرد ” ( 94 )

“Sesungguhnya Allah menjadikan mereka Abraar, karena mereka berbuat baik terhadap bapak-bapak dan anak-anak mereka. Sebagaimana bapakmu memiliki hak atasmu, maka anakmu juga memiliki hak atasmu.” (Al-Adabul Mufrad, 93)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dari hadits Abdullah bin Umar,

….. وإن لولدك عليك حقاً  (رواه  مسلم، رقم  1159 )

“… dan sesungguhnya anakmu memiliki hak atasmu.” (HR. Muslim, no. 1159)

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال :

Hak-hak anak yang menjadi kewajiban seorang bapak sebelum kelahiran anak di antaranya;

1. Mencari isteri yang shaleh agar menjadi ibu yang saleh baginya.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dia berkata,

تنكح المرأة لأربع : لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها فاظفر بذات الدين تربت يداك  (رواه البخاري، رقم 4802 ، ومسلم، رقم  1466)

“Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; Karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya. Utamakan yang memiliki agama, semoga engkau beruntung.” (HR. Bukhari, no. 4802, Muslim, no 1466)

Syekh Abdul Ghani Ad-Dahlawi berkata, “Pilihlah wanita-wanita yang memiliki agama dan saleh serta keturunan mulia agar  jangan sampai  wanita tersebut  merupakan anak hasil zina, karena kehinaan perbuatan zina dapat menular kepada anak-anaknya. Allah Ta’ala berfirman,

الزاني لا ينكح إلا زانية أو مشركة والزانية لا ينكحها إلا زان أو مشرك  (سورة النور: 3)

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.” (QS. An-Nur: 3)

Sesungguhnya tuntutan sekufu (isteri yang sesuai berdasarkan agama dan akhlak) adalah untuk kesesuaian dan agar tidak mendapatkan kehinaan.” (Syarh Sunan Ibnu Majah, 1/141)

Hak-hak anak setelah kelahiran :

1- Disunahkan mentahknik (mengunyah makanan manis seperti korma dan disuapi kepada) bayi yang baru dilahirkan.

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, dia berkata, “Suatu hari, anak Abu Thalhah menderita sakit. Lalu ketika Abu Thalhah pergi keluar, sang anak meninggal dunia. Ketika kembali dari perjalanan, Abu Thalhah bertanya (kepada isterinya), “Bagaimana anakku sekarang?” Ummu Sulaim (sang isteri) menjawab, “Dia sekarang lebih tenang dari sebelumnya.” Lalu sang isteri menghidangkan makan malam baginya, lalu mereka makan malam bersama, dan kemudian mereka melakukan hubungan badan. Setelah selesai, sang isteri berkata, “Anak tersebut telah dikubur (telah wafat).”

Maka dipagi harinya Abu Thalhah mendantangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu dia mengabarkan perkara tersebut kepadanya.  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Apakah semalam kalian berhubungan intim?” Dia berkata, “Ya.” Beliau berkata, “Ya Allah, berkahilah mereka berdua.” Maka kemudian sang isteri melahirkan seorang anak. Lalu Abu Thalhah berkata kepadaku, “Rapihkan anak itu untuk dibawa menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.” Maka anak itupun dibawah menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan dibawakan pula beberapa butir korma bersamanya. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengambil anak tersebut, lalu berkata, “Adakah sesuatu bersama anak ini?” Mereka berkata, “Ya, beberapa butir korma.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengambilnya, kemudian beliau mengunyahnya lalu diambilnya dari mulutnya dan dimasukkan ke dalam mulut anak itu lalu mentahniknya.” (HR. Bukhari, no. 5153, Muslim, no. 2144)

An-Nawawi berkata, “Para ulama sepakat disunahkannya melakukan tahnik terhadap bayi yang baru dilahirkan. Jika tidak mampu (dengan korma) dapat dilakukan dengan sesuatu yang tujuannya mirip, seperti dengan sesuatu yang manis, lalu dikunya oleh orang yang akan mentahniknya hingga encer mudah ditelan, kemudian mulut sang anak dibuka dan kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya agar ada bagian dari kunyahan tersebut yang masuk ke dalam rongganya.”

(Syarah Nawawi Ala Shahih Muslim, 14/122-123)

2- Memberi nama kepada anak dengan nama yang baik, seperti nama Abdullah dan Abdurrahman.

Dari Nafi bin Ibnu Umar, dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

” إن أحب أسمائكم إلى الله عبد الله وعبد الرحمن ” رواه مسلم ( 2132 )

“Sesungguhnya, nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim, no. 2132)

Disunahkan pula memberi nama kepada anak dengan nama-nama para nabi.

Dari Anas bin Malik, dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

ولد لي الليلة غلام فسميته باسم أبي إبراهيم  (رواه مسلم، رقم  2315 )

“Malam ini aku mendapatkan kelahiran anak, maka aku beri nama dia dengan nama bapakku; Ibrahim.” (HR. Muslim, no. 2315)

Disunnahkan memberi nama pada hari ketujuh, dan tidak mengapa kalau memberi nama di hari kelahirannya berdasarkan hadits tadi.

Dari Samurah bin Jundub, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

كل غلام رهينة بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويحلق ويسمى (رواه أبو داود، رقم  2838، وصححه الشيخ الألباني في ” صحيح الجامع، رقم  4541 )

“Seluruh anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih pada hari ketujuh, lalu kepalanya digundul dan kemudian diberi nama.” (HR. Abu Daud, no. 2838. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 4541)

Ibnu Qayim berkata,

“Pemberian nama pada hakikatnya merupakan tindakan untuk memperkenalkan sesuatu yang diberi nama. Karena jika dia ditemukan, namun dia tidak dikenal, maka tidak ada sesuatu yang dapat dilakukan untuk memperkenalkannya. Maka pemberian nama boleh dilakukan saat dia dilahirkan, atau ditunda tiga hari kemudian, atau saat dia melakukan aqiqah, boleh juga sebelumnya atau sesudahnya. Perkaranya luas.” (Tuhfatul Maudud, hal. 111)

3. Disunahkan pula menggundul kepalanya pada hari ketujuh dan bersadaqah dengan perak seberat timbangan rambutnya.

Dari Ali bin Abi Thalib, dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan aqiqah terhadap Hasan dengan seekor kambing, lalu dia berkata,

يا فاطمة احلقي رأسه وتصدقي بزنة شعره فضة قال فوزنته فكان وزنه درهما أو بعض درهم  (رواه الترمذي، رقم 1519، وحسَّنه الشيخ الألباني في صحيح الترمذي ، رقم  1226 ) .

‘Wahai Fatimah, gundullah kepalanya dan sedekahlah dengan perak seberat timbangan rambutnya. Maka Fatimah berkata, ‘Lalu aku timbang rambutnya, maka beratnya satu dirham atau sebagiannya.” (HR. Tirmizi, no. 1519. Dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Tirmizi, no. 122)

4. Disunahkan bagi bapaknya untuk melakukan aqiqah bagi anak tersebut.

Sebagaimana hadits yang telah disebutkan sebelumnya, “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya.”

Maka, untuk anak laki-laki hendaknya disembelih dua ekor kambing, sedangkan untuk anak perempuan hendaknya disembelih satu ekor kambing.

Dari Aisyah sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

أمرهم عن الغلام شاتان مكافئتان وعن الجارية شاة   (رواه الترمذي، رقم  1513، صحيح الترمذي، رقم 1221 أبو داود، رقم  2834 ، النسائي، رقم  4212،  ابن ماجه، رقم  3163 ) .

“Memerintahkan mereka untuk menyembelih dua ekor kambing yang sepadan untuk anak laki-laki dan seekor kambing untuk anak perempuan.” (HR. Tirmizi, no. 1513, shahih Tirmizi, no. 1221, Abu Daud, no. 2834, Ibnu Majah, no. 3163)

5. Khitan

Dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Fitrah itu ada lima, atau ada lima perkara yang termasuk fitrah, yaitu; Khitan, mencukur rambut kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan memotong kumis.” (HR. Bukhari, no. 55550, Muslim,  no. 257)

Hak Anak Dalam Pendidikan

Dari Abdullah radhiallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Semua kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin atas rakyatnya, dan dia akan ditanya tentang mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin di rumah tangganya dan dia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan anak-anaknya, dia akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya, dia akan ditanya tentang itu. Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnnya.” (HR. Bukhari, no. 2416, Muslim, no. 1829)

Berdasarkan hal tersebut, setiap bapak wajib memperhatikan untuk selalu memberikan arahan terhadap anak-anaknya agar menunaikan kewajiban agama dan yang lainnya, baik dalam hal keutamaan dalam syariat atau dalam urusan dunia yang di dalamnya terjaga kehidupan mereka.

Hendaknya orang tua memulai pendidikan terhadap anak dari yang paling penting kemudian yang penting. Dimulai mendidik mereka dengan aqidah yang shahih dan bersih dari syirik serta bid’ah, kemudian dengan melakukan ibadah, khususnya shalat dan mengajarkan mereka. Kemudian mendidik mereka dengan akhlak dan adab terpuji. Setiap masing-masing memiliki keutamaan dan kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (سور لقمان: 13)

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Dari Abdul Malik bin Rabi, dari Saburah dari bapaknya, dari kakeknya, dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda,

علموا الصبي الصلاة ابن سبع سنين ، واضربوه عليها ابن عشر (رواه الترمذي، رقم 407،  وأبو داود، رقم  494، وصححه الشيخ الألباني في ” صحيح الجامع، رقم 4025)

“Hendaknya kalian mengajarkan anak-anak untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun. Dan pukullah jika mereka (masih belum shalat) pada usia sepuluh tahun.” (HR. Tirmizi, no. 407, Abu Daud, no. 494. Dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Shahih Jami, no. 4025)

Dari Rabi binti Mi’waz, dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada pagi hari Asyura mengutus seseorang (untuk mengumumkan), ‘Siapa yang pagi harinya telah berbuka, maka teruskan sisa harinya, sedangkan yang berpuasa, hendaknya dia berpuasa.” Lalu dia berkata, ‘Maka kami berpuasa dan memerintahkan anak-anak kami untuk berpuasa. Kami buatkan mainan untuk mereka dari kain kapas. Jika salah seorang di antara mereka ada yang menangis karena lapar, baru kami beri dia makanan. Hingga akhirnya datang waktu berbuka.” (HR. Bukhari, no. 1859, Muslim, no. 1136)

Dari Saib bin Yazid dia berkata, “Aku diajak melakukan haji bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat aku berusia tujuh tahun.” (HR. Bukhari, no. 1759)

Pendidikan Akhlak

Setiap bapak atau ibu selayaknya mengajarkan putera puterinya akhlak yang mulia dan adab yang tinggi. Apakah akhlak yang terkait dengan Allah Ta’ala, atau terhadap nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam, atau akhlak terhadap Al-Quran, terhadap masyarakat atau terhadap siapa saja yang memiliki hak padanya. Agar dia jangan sampai menyakiti orang-orang di sekeliling mereka, terhadap tetangga dan teman-teman sepergaulannya.

An-Nawawi berkata,

Seorang bapak harus mendidik anaknya terhadap apa yang dia butuhkan dalam kewajiban agama. Pendidikan seperti ini wajib bagi seorang bapak dan siapa saja yang menjadi walinya sebelum  putera puterinya mencapai usia balig. Perkara ini dinyatakan oleh Imam Syafii dan murid-muridnya.

Imam Syafii dan para muridnya berkata, “Seorang ibu juga memiliki kewajiban ini jika bapaknya tidak ada. Mereka berhak mendapatkan pemasukan dalam hal ini yang biayanya dapat diambil dari harta sang anak. Jika sang anak tidak memiliki harta, maka dikeluarkan dari orang yang memberinya nafkah, karena hal itu adalah perkara yang dia butuhkan. Wallahua’lam.”

(Syarah Nawawi Ala Shahih Muslim, 8/44)

Hendakya dia mendidik mereka tentang adab dalam setiap perkara; Saat makan, minum, berpakaian, tidur, keluar masuk rumah, naik kendaraan dan semua perkara lainnya. Kemudian hendaknya ditanam dalam jiwa mereka sifat-sifat kejantanan yang terpuji, seperti cinta berkorban, memperhatikan kebutuhan orang lain, suka menolong, wibawa dan dermawan. Kemudian mereka dijauhkan dari sifat-sifat hina seperi penakut, bakhil, tidak menjaga harga diri, enggan mencari kemuliaan, dan selainnya.

Al-Manawi berkata, “Sebagaimana kedua orang tua anda memiliki hak yang menjadi kewajiban anda, maka demikian pula anak-anak anda, mereka memiliki hak yang menjadi kewajiban anda. Hak-hak mereka banyak, di antaranya mengajarkan mereka kewajiban-kewajiban pribadi, mengajarkan adab-adab syar’i, adil di antara mereka dalam hal pemberian, apakah berbentuk hadiah, wakaf atau sumbangan lainnya. Jika dia melebihkan yang lain tanpa alasan, maka menurut sebagian ulama hal tersebut tidak berlaku, sementara menurut sebagian lainnya hal tersebut makruh saja.”

(Faidhul Qadhir, 2/574)

Diapun wajib melindungi putera puterinya dari segala sesuatu yang dapat mendekatkan mereka kepada neraka. Allah Ta’ala berfirman,

يا أيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا وقودها الناس والحجارة عليها ملائكة غلاظ شداد لا يعصون الله ما أمرهم ويفعلون ما يؤمرون (سورة التحريم: 6)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Tentang ayat ini, Al-Hasan berkomentar, “Hendaknya dia memerintahkan dan melarang mereka.” Sebagian ulama berkata, “Ketika dikatakan ‘peliharalah diri dan keluargamu’, termasuk di dalamnya anak-anak, karena mereka adalah bagian darinya. Sebagaiman merka juga masuk dalam fiman Allah Ta’ala, ‘Tidak ada halangan (maka bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri’ Dia tidak mengecualikan kerabat yang lainnya. Maka hendaknya sang anak diajarkan perkara halal dan haram serta dijauhkan dari perbuatan maksiat dan dosa hingga hukum-hukum yang lainnya.

(Tafsir Al-Qurthubi, 18/194-195)

Nafkah

Perkara ini merupakan kewajiban seorang bapak terhadap anak-anaknya. Mereka tidak boleh lalai dalam hal ini, apalagi menyia-nyiakannya. Bahkan mereka harus menunaikannya secara maksimal.

Dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

كفى بالمرء إثما أن يضيع من يقوت  ( رواه أبو داود، رقم  1692 ، وحسَّنه الشيخ الألباني في ” صحيح الجامع، رقم 4481)

“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika dia menyia-nyiakan siapa yang wajib dia tanggung biayanya.” (HR. Abu Daud, no. 1692. Dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 4481)

Demikian pula halnya, merupakan hak mereka yang paling besar adalah mendidik anak perempuan dan merawatnya dengan baik. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan anjuran dalam masalah ini dan memasukkannya sebagai amal saleh.

Dari Aisyah, isteri Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dia berkata, “Seorang wanita mendatangiku dengan kedua orang puterinya. Dia meminta sesuatu kepadaku, namun tidak ada yang kumiliki selain sebutir korma. Maka aku memberikannya. Lalu wanita tersebut membelah dua dan membagi masing-masing belahannya untuk kedua puterinya, lalu dia bangkit dan beranjak keluar. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam datang dan masuk, maka aku sampaikan berita tentang hal tersebut, lalu beliau bersabda,

من يلي من هذه البنات شيئاً فأحسن إليهن كنَّ له ستراً من النار، (رواه البخاري، رقم 5649 ومسلم، رقم  2629 ) .

“Siapa yang diuji sesuatu melalui anak-anak perempuan, lalu dia bersikap baik terhadap mereka, maka mereka akan menjadi pelindungnya dari api neraka.” (HR. Bukhari, no. 5649, Muslim, no. 2629)

Demikian pula, termasuk perkara penting yang merupakan hak anak-anak yang harus diperhatikan, adalah sikap adil di antara anak-anak. Hak ini telah diisyaratkan olen Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shahih,

اتقوا الله واعدلوا بين أولادكم  (رواه البخاري، رقم  2447 ومسلم  1623)

“Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersikap adillah terhadap anak-anak kalian.” (HR. Bukhari, no. 2447, dan Muslim, no. 1623)

Maka, tidak dibolehkan mengutamakan anak perempuan atas anak laki-laki, sebagaimana tidak boleh mengutamakan anak laki-laki atas anak perempuan. Jika seorang bapak terjerumus sikap yang keliru ini dengan mengutamakan sebagian anaknya dibanding yang lain dan bersikan tidak adil, maka hal tersebut akan mendatangkan berbagai kerusakan yang banya, di antaranya;

Sesuatu yang bahayanya kembali kepada orang tua sendiri, yaitu sang anak yang merasa diperlakukan tidak adil akan lahir dalam dirinya kebencian kepada sang bapak. Hal ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Muslim kepada orang tua Nu’man, “Apakah kamu ingin agar bakti mereka sama terhadap kamu?” beliau mengatakan, “Ya.”

Maksudnya adalah jika engkau ingin agar mereka berbakti secara sama kepadamu, maka bersikap adillah terhadap mereka dalam hal pemberian.

Di antara dampak buruk lainnya adalah timbulnya rasa saling benci di antara saudara dan permusuhan di antara mereka.

Wallahua’lam.

sumber : https://islamqa.info/id/20064

Advertisements

Belajar ‘Parenting’ Nabi Ibrahim

SECARA historis ibadah kurban tidak terlepas dari peristiwa penyembelihan Ismail as (anak) oleh Nabi Ibrahim as (ayah). Ketika itu, Ismail as begitu patuh dan menurut atas kemauan ayahnya untuk disembelih, diyakini penyembelihan itu perintah Allah Swt.

Muncul rentetan pertanyaan terhadap peristiwa tersebut, antara lain: Mengapa Ismail mau disembelih oleh ayahnya, padahal ia ketika itu masih remaja? Mengapa Ismail begitu taat kepada perintah Tuhan dan patuh terhadap mimpi ayahnya? Apa yang dilakukan Nabi Ibrahim, sehingga Ismail begitu patuh dan taat? Pola asuh (parenting) bagaimana yang diterapkan Nabi Ibrahim dalam mendidik, sehingga melahirkan anak yang saleh, seperti Ismail?

 Mendidik anak
Jika menilik Alquran ada beberapa pola pengasuhan Nabi Ibrahim as dalam mendidik anak. Pertama, berdoa kepada Allah Swt agar dikarunia anak yang saleh. Ini menunjukkan kelahiran anak saleh benar-benar diharapkan oleh Nabi Ibrahim as. Sebab itu, ia melibatkan Tuhan dalam menggapai cita-citanya tersebut.

Ini juga menunjukkan mendapatkan anak saleh diperlukan perencanaan (planning) jauh-jauh hari sebelum anak itu lahir, bahkan sebelum tanda-tanda kehamilan diketahui. Mustahil anak saleh didapatkan tanpa melibatkan Allah Swt dalam mendidik mereka. Cara melibatkan Allah Swt agar dikarunia anak saleh, yaitu dengan bermunajat kepada-Nya.

Kedua, memperkenalkan fitrah anak. Untuk mendapatkan anak shaleh orangtua memiliki kewajiban untuk memperkenalkan fitrah anak sejak dini. Dua fitrah anak yang wajib diperkenalkan yaitu memperkenalkan Tuhan dan agama anak. Sejak di alam sulbi anak sudah bersaksi bahwa Tuhannya adalah Allah Swt. Tatkala lahir ke dunia anak perlu diperkenalkan kembali tentang fitrah ketuhanannya. Caranya dapat dilakukan dengan memperkenalkan sifat, afwal, dan nama-nama-Nya (asmaul husna). Misalkan orang tua memperkenalkan alam beserta isinya adalah hasil ciptaan Allah Swt.

Begitu pula dengan memperkenalkan Islam sebagai agama anak. Semua anak terlahir dalam kondisi Islam. Maka keislaman tersebut juga perlu dipupuk sampai ia remaja dan dewasa. Yaitu dengan memasukkan nilai-nilai keislaman dalam perilaku keseharian anak. Misalkan mengajarkan anak membaca basmallah setiap melakukan sesuatu, dan selalu mengakhiri dengan tahmid setiap selesai melakukan sesuatu.

Selain itu, membiasakan anak shalat berjamaah di masjid, dan mengajak mereka menghafal doa sehari-hari, seperti doa masuk dan keluar masjid, doa tidur dan bangun tidur, doa makan dan setelah makan, doa belajar dan setelah belajar, dan seterusnya.

Ketiga, mengajarkan anak cara beribadah. Konsekusensi setelah mengenal Islam sebagai agama yaitu melaksanakan ibadah sesuai ajaran Islam. Khususnya ibadah-ibadah mahdhah (khusus) dan fardhu a’in (wajib personal) terhadap seorang muslim, misalkan mengajarkan anak shalat, berpuasa, berzakat, dan manasik haji. Sehingga ketika mereka remaja dan dewasa dapat mengaplikasikan ibadah tersebut dengan baik dan benar.

Keempat, memanggil anak dengan ungkapan sayang dan cinta. Ungkapan ya bunayya dalam Alquran digunakan dalam tema-tema pola pengasuhan anak. Ungkapan atau diksi tersebut terlihat dari cuplikan beberapa kisah para Nabi dan Rasul yang diungkapkan Alquran.

Semisal kisah Nabi Nuh as yang memanggil anaknya, Kan’an, ketika air bah menghantam umatnya dengan ya bunayya (QS. Hud: 42). Ungkapan yang sama digunakan Nabi Ibrahim as ketika menceritakan mimpinya kepada anaknya, Ismail as (QS. Ash-Shaffat: 102). Diksi senada juga digunakan oleh Luqman ketika memberikan beberapa nasihat penting kepada anaknya (QS. Luqman: 13).

Karena itu, pemakaian diksi ya bunayya tersebut menarik untuk dicermati dalam konteks pola pengasuhan anak. Ya bunayyaberakar dari kata bana-yabni bermakna tumbuh. Dari sana dibentuk menjadi isim tashgir menjadi ya bunayya yang bermakna anak kecilku. Para pakar seperti al-Ashfahani dan Shawi menjelaskan, diksi ya bunayya merupakan suatu uslub (gaya bahasa) yang bermakna kecil dan penuh rasa cinta serta kasih sayang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa diksi tersebut merupakan sebuah ungkapan rasa cinta dan kasih sayang orang tua dalam mendidik/mengasuh tumbuh-kembang anak.

Diksi tersebut dapat diterjemahkan dalam gaya bahasa apa pun selama bahasa tersebut sesuai dengan misi diksi ya bunayya. Semisal; boh hate loen dan aneuk meutuah. Sudah seharusnya orang tua memanggil anak dengan diksi boh hate loen, sayang loen, aneuk meutuah, dan diksi-diksi lain. Bahkan, diksi-diksi tersebut di samping memiliki filosofi kedekatan hubungan orang tua dengan anak, juga memperkenalkan identitas budaya kepada anak. Sehingga ketika dewasa, mereka dapat diandalkan untuk mewariskan bahasa daerah atau bahasa ibu.

 Sangat urgen
Dengan itu dapat dipahami bahwa ya bunayya merupakan simbol bahasa komunikasi efektif dan persuasif orang tua dalam mendidik anak. Bahasa didikan yang dikedepankan adalah bahasa santun, lembut, luhur, terpuji, mulia, dan beradab. Bukan bahasa yang kasar, kotor, merusak, dan jauh dari keadaban. Dalam hal ini, bahasa tidak hanya sekadar ungkapan sepintas lalu tanpa melekat dalam sanubari anak. Ini menunjukkan bahwa bahasa sangat urgen dalam mendidik anak agar menjadi saleh.

Maka sudah saatnya pola asuh orang tua kembali merujuk kepada Alquran. Di antaranya dengan membangun komunikasi efektif dan persuasif dalam mendidik anak. Komunikasi efektif dan persuasif bermakna bahasa mendidik anak yaitu bahasa yang merangkul bukan memukul, mengajak bukan mengejek, menyayangi bukan menendangi, menasihati bukan menghina, dan mencintai bukan membenci.

Untuk itu, dalam mendidik anak janganlah menggunakan “paksaan” dan doktrinasi semata secara membabi-buta tanpa diiringi dengan kasih sayang. Jangankan anak sebagai manusia, binatang saja kalau dipaksa akan berontak dan membangkang juga. Itu sebagai pelajaran bagi orang tua bahwa pendidikan yang mengedepankan “kekerasan” akan berdampak buruk pada anak. Orang tua harus menyadari bahwa anak merupakan amanah Allah Swt, maka didiklah anak-anak itu dengan pedoman-Nya, bukan dengan pedoman/kemauan orang tua.

Pada akhirnya, anak yang dididik dengan kemarahan akan menjadi pemarah. Anak yang dididik dengan kebencian akan menjadi pembenci. Anak yang dididik dengan hinaan akan menjadi penghina. Anak yang dididik dengan bahasa kotor akan berbicara dengan bahasa kotor. Anak yang dididik dengan teladan tidak beradab akan berperilaku tidak beradab. Anak yang dididik dengan kekerasan akan menjadi temperamental. Anak yang dididik dengan kemanjaan berlebihan akan menjadi penakut dengan risiko kehidupan.

Sebaliknya, anak yang dididik dengan kasih sayang akan menjadi penyayang. Anak yang dididik dengan pujian akan menghargai. Anak yang dididik dengan kesantunan akan menjadi santun dalam bertindak. Anak yang dididik dengan kemuliaan akan memuliakan sesama. Anak yang dididik dengan bahasa persuasif akan belajar mematuhi dan menyayangi orangtua. Dan anak yang diberikan teladan yang baik akan berperilaku terpuji.

Oleh karena itu, jika anak ibarat busana maka orangtua adalah perancang busana. Busana yang menarik, elegan, megah, dan modern lahir dari para perancang busana profesional. Pun anak yang mulia akan lahir dari pola pengasuhan mulia. Nabi Ibrahim as patut menjadi teladan bagi orang tua modern dalam mendidik anak. Bak kata peribahasa; Meunyoe jeut tapeulaku boh labu jeut keu asoe kaya, meunyoe hanjeut tapeulaku aneuk teungku jeut keu beulaga. Nah!

Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2016/09/10/belajar-parenting-nabi-ibrahim

Belajar Mendidik Anak Dari Nabi Ibrahim

Di tengah maraknya metode pendidikan anak yang ditawarkan, hadir spiritual parenting berasaskan pada metode yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an dan contoh dari Rasulullah saw. Dalam Islam peran ayah dalam mendidik anaknya ternyata sangat dominan sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran. Diantaranya kisah Nabi Ibrahim yang berdialog dengan Ismail anaknya, Kisah Lukman yang memberikan pelajaran dengan cara yang sangat lembut dan penuh kasih sayangpada anaknya dapat di temui dalam Al Quran.

Bagaimanakah caranya Nabi Ibrahim mendidik anak-anaknya hingga memiliki kesabaran dan ketaatan yang sempurna pada Tuhannya?

Jika orang tua suka memaksa kehendak  pada anak dipastikan akan berdampak tidak baik bagi anak. Dialog orang tua dengan anak adalah metode Qur’ani, membiasakan berdialog dengan anak untuk menentukan keputusan akan membuat anak memiliki harga diri, mampu membedakan mana yang baik dan tidak baik bagi dirinya. Pilihlah waktu yang tepat saat berdialog dengan anak, misalnya setelah anak kenyang setelah makan atau menjelang anak tidur, insya Allah anak akan senang diajak berdialog dengan orang tuanya. Namun orangtua janganlah menjadikan dialog sebagai upaya memaksakan kehendak orang tua.

Mari kita kaji di Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 37-41, bagaimana Nabi Ibrahim As berperan sebagai pendidik utama dalam keluarganya. Beliau adalah orang tua yang banyak mendoakan anak-anak dan keluarganya dan menyandarkan keharapannya hanya pada Allah.

(Bacaan Tilawah Surat Ibrahim ayat 37-42 oleh Syekh Saihul Basyir https://www.facebook.com/photo.php?v=10200694927315353)

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur

رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ ۗ وَمَا يَخْفَىٰ عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat

Doa di atas adalah do`a Nabi Ibrahim, yang darinya kita dapat memetik beberapa hikmah tentang bagaimana Nabi Ibrahim mendidik putranya.

Pertama; Mencari, membentuk lingkungan yang baik.

Representasi lingkungan yang baik bagi Nabi Ibrahim yaitu Baitullah [rumah Allah], dan kalau kita adalah masjid [rumah Allah].  Terdapat nilai lebih jika kita bertempat tinggal dekat dengan masjid atau anak-anak kita lebih sering ke masjid, karena memudahkan mereka mencintai masjid. Bila kita kesulitan menemukan masjid, maka hendaknya kita tetap berusaha mencarikan dan membentuk  lingkungan yang baik bagi putra-putri kita.

Kedua; Mendidik anak agar mendirikan shalat.

Nabi Ibrahim secara khusus berdoa agar anak keturunannya tetap mendirikan shalat.
“Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (QS Ibrahim :40)

Rasulullah saw memberikan arahan tentang keharusan pembelajaran shalat kepada anak,  “Suruhlah anak shalat pada usia 7 tahun, dan pukullah bila tidak shalat pada usia 10 tahun”. Rasulullah saw membolehkan memukul anak di usia 10 tahun kalau dia tidak melakukan shalat dari pertama kali disuruh di usia 7 tahun. Ini artinya ada masa 3 tahun, orang tua untuk mendidik anak-anaknya untuk shalat. Dan waktu yang cukup untuk melakukan pendidikan shalat.

Ketiga; Mendidik anak agar disenangi banyak orang.

Orang senang bergaul dengan anak kita, seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah saw: “Berinteraksilah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.” [HR. Bukhari].

Keempat;  Mendidik anak agar dapat menjemput rezki yang Allah telah siapkan bagi setiap orang.
Anak dididik untuk memiliki life skill [keterampilan hidup] dan skill to life [keterampilan untuk hidup].

Kelima;  Mendidik anak dengan mempertebal terus keimanan, hingga merasakan kebersamaan dan pengawasan Allah kepada mereka.

Keenam; Mendidik anak agar tetap memperhatikan orang-orang yang berjasa —sekalipun sekadar doa— dan peduli terhadap orang-orang yang beriman yang ada di sekitarnya baik yang ada sekarang maupun yang telah mendahuluinya. []

Sumber : https://www.kompasiana.com/irhamnirofiun/spiritual-parenting-belajar-mendidik-anak-dari-nabi-ibrahim_54f79d54a333112f1e8b458b

Pesan Rasullullah tentang Tata Cara Mendidik Anak

Sebagai Muslim adalah kewajiban kita untuk mengikuti petunjuk Nabi di setiap segi kehidupan kita. Terlebih tentang tata cara mendidik anak.

Pesan-pesan Rasullullah tentang tata cara mendidik anak

Sesuai dengan judulnya buku ini berisi tentang tata cara mendidik anak sesuai dengan sabda Rasullullah beserta butir-butir kutipan dari para Imam guna memperjelas sabda Nabi tersebut.

1. Mengenalkan dan mendidik anak tentang Tauhid

Rasullullah SAW bersabda: “Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat “Lailaha-illaallah”. Dan saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah, “Lailaha-illallah”.

Sesungguhnya barangsiapa awal dan akhir pembicaraannya “Lailah-illallah”, kemudian ia hidup selama seribu tahun, maka dosa apa pun, tidak akan ditanyakan kepadanya.” (sya’bul Iman, juz 6, hal. 398 dari Ibn abbas)

Berdasarkan Hadist Nabi di atas, maka,dalam kitab Al Amali hal.475, Imam Al Baqir dan Imam ash Shadiq raadiyallahu ‘anhuma berkata, tahapan untuk mengenalkan Allah kepada anak adalah:
1. Pada usia 3 tahun, ajarkan kepadanya kalimah Tauhid, “Laila ha illallah” sebanyak tujuh kali.
2. Pada usia 3 tahun 7 bulan, ajarkan kepadanya kalimah “Muhammad Rasullullah.”

Mendidik anak tentang Salat

Masih dalam kitab yang sama, Imam al Baqir dan Imam ash Shadiq ra menerangkan bagaimana seharusnya kita mengenalkan dan mendidik anak tentang salat.

1. Setelah anak usia 5 tahun dan telah memahami arah, maka coba tanyakan mana bagian kanan dan kirinya. Lalu ajarkan padanya arah kiblat dan mulailah mengajaknya salat.

2. Pada usia tujuh tahun ajaklah ia untuk membasuh muka dan kedua telapak tangannya dan minta padanya untuk melakukan salat.

3. Tata cara berwudhu secara penuh boleh diajarkan pada usia 9 tahun. Kewajiban untuk melakukan salat serta pemberian hukuman bila meninggalkannya sudah dapat di terapkan pada usia ini. Karena pada usia ini anak biasanya sudah pandai memahami akan urutan, aturan dan tata tertib.

Hak anak dalam pendidikan

Berkaitan dengan pendidikan agama, ada beberapa hal yang harus orang tua lakukan antara lain
1. Memberikan nama yang baik.
2. Diakikahkan dan dipotong rambutnya (akan lebih baik dilakukan pada hari ketujuh).
3. Ada hak anak yang tertambat pada ayahnya yaitu mendapat pengajaran budi pekerti yang luhur, menulis, dan latihan fisik yang menyehatkan badannya serta diwarisi harta yang halal.

Tentang ibadah-ibadah dan amalan lainnya

Saat anak mendekati usia baligh, maka wajib bagi orang tua untuk mmengenalkannya dengan puasa serta mewajibkan salat. Selain itu juga memerintahkan padanya untuk mencari ilmu, menghafal Al-Qur’an, dan jika tidak mampu maka perintahkan padanya untuk mencatat.

Subhanallah, betapa indah tuntunan yang telah Nabi berikan untuk mendidik anak kita. Sebagai penutup berikut adalah penjelasan Imam AliZainal Abidin radiyallahu’anhu dalam kitab Risatul Huquq.

“Adapun hak anakmu adalah, ketahuilah bahwa ia berasal darimu. Dan segala kebaikan dan keburukannya di dunia, dinisbatkan kepadamu. Engkau bertanggung jawab untuk mendidiknya, membimbingnya menuju Allah dan membantunya untuk menaati perintah-Nya.

Maka, perlakukanlah anakmu sebagaimana perlakuan seseorang yang mengetahui bahwa andaikan ia berbuat baik pada anaknya, niscaya ia akan mendapatkan pahala dan andaikan ia berbuat buruk niscaya ia akan memperoleh hukuan.” (Al Khislal, hal.568)

Demikian pesan Rasullullah terkait dengan pendidikan anak. Semoga bermanfaat ya, Parents.

sumber : https://id.theasianparent.com/pesan-rasullullah-tentang-tata-cara-mendidik-anak/