Belajar ‘Parenting’ Nabi Ibrahim

SECARA historis ibadah kurban tidak terlepas dari peristiwa penyembelihan Ismail as (anak) oleh Nabi Ibrahim as (ayah). Ketika itu, Ismail as begitu patuh dan menurut atas kemauan ayahnya untuk disembelih, diyakini penyembelihan itu perintah Allah Swt.

Muncul rentetan pertanyaan terhadap peristiwa tersebut, antara lain: Mengapa Ismail mau disembelih oleh ayahnya, padahal ia ketika itu masih remaja? Mengapa Ismail begitu taat kepada perintah Tuhan dan patuh terhadap mimpi ayahnya? Apa yang dilakukan Nabi Ibrahim, sehingga Ismail begitu patuh dan taat? Pola asuh (parenting) bagaimana yang diterapkan Nabi Ibrahim dalam mendidik, sehingga melahirkan anak yang saleh, seperti Ismail?

 Mendidik anak
Jika menilik Alquran ada beberapa pola pengasuhan Nabi Ibrahim as dalam mendidik anak. Pertama, berdoa kepada Allah Swt agar dikarunia anak yang saleh. Ini menunjukkan kelahiran anak saleh benar-benar diharapkan oleh Nabi Ibrahim as. Sebab itu, ia melibatkan Tuhan dalam menggapai cita-citanya tersebut.

Ini juga menunjukkan mendapatkan anak saleh diperlukan perencanaan (planning) jauh-jauh hari sebelum anak itu lahir, bahkan sebelum tanda-tanda kehamilan diketahui. Mustahil anak saleh didapatkan tanpa melibatkan Allah Swt dalam mendidik mereka. Cara melibatkan Allah Swt agar dikarunia anak saleh, yaitu dengan bermunajat kepada-Nya.

Kedua, memperkenalkan fitrah anak. Untuk mendapatkan anak shaleh orangtua memiliki kewajiban untuk memperkenalkan fitrah anak sejak dini. Dua fitrah anak yang wajib diperkenalkan yaitu memperkenalkan Tuhan dan agama anak. Sejak di alam sulbi anak sudah bersaksi bahwa Tuhannya adalah Allah Swt. Tatkala lahir ke dunia anak perlu diperkenalkan kembali tentang fitrah ketuhanannya. Caranya dapat dilakukan dengan memperkenalkan sifat, afwal, dan nama-nama-Nya (asmaul husna). Misalkan orang tua memperkenalkan alam beserta isinya adalah hasil ciptaan Allah Swt.

Begitu pula dengan memperkenalkan Islam sebagai agama anak. Semua anak terlahir dalam kondisi Islam. Maka keislaman tersebut juga perlu dipupuk sampai ia remaja dan dewasa. Yaitu dengan memasukkan nilai-nilai keislaman dalam perilaku keseharian anak. Misalkan mengajarkan anak membaca basmallah setiap melakukan sesuatu, dan selalu mengakhiri dengan tahmid setiap selesai melakukan sesuatu.

Selain itu, membiasakan anak shalat berjamaah di masjid, dan mengajak mereka menghafal doa sehari-hari, seperti doa masuk dan keluar masjid, doa tidur dan bangun tidur, doa makan dan setelah makan, doa belajar dan setelah belajar, dan seterusnya.

Ketiga, mengajarkan anak cara beribadah. Konsekusensi setelah mengenal Islam sebagai agama yaitu melaksanakan ibadah sesuai ajaran Islam. Khususnya ibadah-ibadah mahdhah (khusus) dan fardhu a’in (wajib personal) terhadap seorang muslim, misalkan mengajarkan anak shalat, berpuasa, berzakat, dan manasik haji. Sehingga ketika mereka remaja dan dewasa dapat mengaplikasikan ibadah tersebut dengan baik dan benar.

Keempat, memanggil anak dengan ungkapan sayang dan cinta. Ungkapan ya bunayya dalam Alquran digunakan dalam tema-tema pola pengasuhan anak. Ungkapan atau diksi tersebut terlihat dari cuplikan beberapa kisah para Nabi dan Rasul yang diungkapkan Alquran.

Semisal kisah Nabi Nuh as yang memanggil anaknya, Kan’an, ketika air bah menghantam umatnya dengan ya bunayya (QS. Hud: 42). Ungkapan yang sama digunakan Nabi Ibrahim as ketika menceritakan mimpinya kepada anaknya, Ismail as (QS. Ash-Shaffat: 102). Diksi senada juga digunakan oleh Luqman ketika memberikan beberapa nasihat penting kepada anaknya (QS. Luqman: 13).

Karena itu, pemakaian diksi ya bunayya tersebut menarik untuk dicermati dalam konteks pola pengasuhan anak. Ya bunayyaberakar dari kata bana-yabni bermakna tumbuh. Dari sana dibentuk menjadi isim tashgir menjadi ya bunayya yang bermakna anak kecilku. Para pakar seperti al-Ashfahani dan Shawi menjelaskan, diksi ya bunayya merupakan suatu uslub (gaya bahasa) yang bermakna kecil dan penuh rasa cinta serta kasih sayang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa diksi tersebut merupakan sebuah ungkapan rasa cinta dan kasih sayang orang tua dalam mendidik/mengasuh tumbuh-kembang anak.

Diksi tersebut dapat diterjemahkan dalam gaya bahasa apa pun selama bahasa tersebut sesuai dengan misi diksi ya bunayya. Semisal; boh hate loen dan aneuk meutuah. Sudah seharusnya orang tua memanggil anak dengan diksi boh hate loen, sayang loen, aneuk meutuah, dan diksi-diksi lain. Bahkan, diksi-diksi tersebut di samping memiliki filosofi kedekatan hubungan orang tua dengan anak, juga memperkenalkan identitas budaya kepada anak. Sehingga ketika dewasa, mereka dapat diandalkan untuk mewariskan bahasa daerah atau bahasa ibu.

 Sangat urgen
Dengan itu dapat dipahami bahwa ya bunayya merupakan simbol bahasa komunikasi efektif dan persuasif orang tua dalam mendidik anak. Bahasa didikan yang dikedepankan adalah bahasa santun, lembut, luhur, terpuji, mulia, dan beradab. Bukan bahasa yang kasar, kotor, merusak, dan jauh dari keadaban. Dalam hal ini, bahasa tidak hanya sekadar ungkapan sepintas lalu tanpa melekat dalam sanubari anak. Ini menunjukkan bahwa bahasa sangat urgen dalam mendidik anak agar menjadi saleh.

Maka sudah saatnya pola asuh orang tua kembali merujuk kepada Alquran. Di antaranya dengan membangun komunikasi efektif dan persuasif dalam mendidik anak. Komunikasi efektif dan persuasif bermakna bahasa mendidik anak yaitu bahasa yang merangkul bukan memukul, mengajak bukan mengejek, menyayangi bukan menendangi, menasihati bukan menghina, dan mencintai bukan membenci.

Untuk itu, dalam mendidik anak janganlah menggunakan “paksaan” dan doktrinasi semata secara membabi-buta tanpa diiringi dengan kasih sayang. Jangankan anak sebagai manusia, binatang saja kalau dipaksa akan berontak dan membangkang juga. Itu sebagai pelajaran bagi orang tua bahwa pendidikan yang mengedepankan “kekerasan” akan berdampak buruk pada anak. Orang tua harus menyadari bahwa anak merupakan amanah Allah Swt, maka didiklah anak-anak itu dengan pedoman-Nya, bukan dengan pedoman/kemauan orang tua.

Pada akhirnya, anak yang dididik dengan kemarahan akan menjadi pemarah. Anak yang dididik dengan kebencian akan menjadi pembenci. Anak yang dididik dengan hinaan akan menjadi penghina. Anak yang dididik dengan bahasa kotor akan berbicara dengan bahasa kotor. Anak yang dididik dengan teladan tidak beradab akan berperilaku tidak beradab. Anak yang dididik dengan kekerasan akan menjadi temperamental. Anak yang dididik dengan kemanjaan berlebihan akan menjadi penakut dengan risiko kehidupan.

Sebaliknya, anak yang dididik dengan kasih sayang akan menjadi penyayang. Anak yang dididik dengan pujian akan menghargai. Anak yang dididik dengan kesantunan akan menjadi santun dalam bertindak. Anak yang dididik dengan kemuliaan akan memuliakan sesama. Anak yang dididik dengan bahasa persuasif akan belajar mematuhi dan menyayangi orangtua. Dan anak yang diberikan teladan yang baik akan berperilaku terpuji.

Oleh karena itu, jika anak ibarat busana maka orangtua adalah perancang busana. Busana yang menarik, elegan, megah, dan modern lahir dari para perancang busana profesional. Pun anak yang mulia akan lahir dari pola pengasuhan mulia. Nabi Ibrahim as patut menjadi teladan bagi orang tua modern dalam mendidik anak. Bak kata peribahasa; Meunyoe jeut tapeulaku boh labu jeut keu asoe kaya, meunyoe hanjeut tapeulaku aneuk teungku jeut keu beulaga. Nah!

Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2016/09/10/belajar-parenting-nabi-ibrahim

Advertisements

Merindu :’)

images

image source : Google

Hal yang paling menyebalkan adalah, ketika kamu bisa membaca apa yang sedang terjadi tapi kamu tak bisa berbuat apa-apa.
Bahkan melakukan hal paling sederhana sekalipun kamu tak bisa. 😥
Saat rindumu terhalang oleh jarak, hatimu meronta.. Ingin berteriak. Namun tak kuasa.Mohon percayalah, dari sini aku mendoakanmu.
Ku pintakan kebaikan dan keberkahan yang banyak untuk kamu.
Semoga Allah senantiasa menjagamu disana. Saat raga ini tak mampu menyandingmu..Aku ingin memelukmu, menangis, meminta maaf dan berterima kasih atas semua pinta dan doamu kepada-Nya untukku.

Namun tetap saja, apalah dayaku ini.
Jarak ini terlampau melelahkanku.
Menahan rinduku dan menyiksa batinku

Ana uhibbuki fillah ya ummi

41shutterstock_67797022

image source : Google

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ibumu.” Laki-laki itu bertanya kembali,“Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Lagi-lagi beliau menjawab, “Ibumu.” Orang itu pun bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Maka beliau menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ana uhibbuki fillah ya ummi 🙂